
Fitrya Ali Imran, yang akrab disapa Ira, merupakan penari asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, yang dikenal melalui keterlibatannya dalam pertunjukan tari I La Galigo di Jakarta.
Dalam karya panggung epos tersebut, Ira dipercaya membawakan sejumlah adegan, di antaranya prolog, annimal (frog), Batara Guru Merries We Nyili Timo (ladies-in-cloth), The War of Born, Cock Fighting (his concubines), The War (pasukan Luwu), hingga epilog.
Saat mengikuti seleksi penari I La Galigo pada tahun 2011, Ira masih berstatus mahasiswa semester empat di Universitas Negeri Makassar (UNM). Di tengah aktivitasnya sebagai penari, ia tetap mampu menyelesaikan pendidikan sarjana hanya dalam waktu tiga tahun lima bulan dan dikenal sebagai salah satu mahasiswa terbaik di angkatannya.
Saat ini, Ira berkarier sebagai dosen muda di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone dan mengajar mata kuliah Seni.
Perjalanannya menjadi dosen tidak berlangsung mudah. Ia pernah gagal saat mencoba berkarier di almamaternya sendiri, UNM. Namun, kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Pada tahun 2020, ia memperoleh kesempatan menjadi dosen di IAIN Bone, kampus yang berada di Kota Watampone, daerah kelahirannya.
Menurut Ira, menjadi bagian dari penari I La Galigo membutuhkan proses yang tidak sederhana. Selain bakat dan minat, diperlukan kesabaran serta ketahanan mental yang kuat.
“Dibutuhkan mental yang kuat, kalau tidak saya sudah pulang waktu itu,” tuturnya.
Selama satu bulan menjalani pembinaan, Ira menghadapi latihan yang intens dengan arahan tegas dari pelatih sebagai bagian dari persiapannya sebelum tampil di hadapan publik.
Untuk menjadi penari I La Galigo, Ira terlebih dahulu mengikuti seleksi di Makassar dan berhasil lolos sebagai perwakilan Kota Makassar. Setelah itu, ia menjalani pelatihan lanjutan yang berlangsung secara ketat di Jakarta.
“Saya membawakan tari perang dan harus seimbang dengan fisik laki-laki,” ujarnya.
Tarian yang dibawakannya menuntut gerakan yang rinci, dinamis, dan selaras dengan seluruh unsur pertunjukan.
Ketertarikannya terhadap dunia seni telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Kecintaan tersebut terus berkembang hingga aktif berkegiatan di sanggar seni saat bersekolah.
“Saya pertama di sanggar seni SMAN 4 Bone (sekarang SMAN 13 Bone) namanya Pattola’ Palallo sebagai ketua,” katanya.
Pada tahun 2018, Ira kembali mengikuti audisi I La Galigo. Ia kembali dinyatakan lolos dan kali ini dipercaya memerankan tokoh utama, yaitu Tenri Abeng, saudara kembar Sawerigading.
Selain dikenal sebagai penari, penerima penghargaan Purna Prakarya Muda ini juga memiliki kemampuan akting. Ia pernah menjadi pemeran utama sebagai sosok ibu dalam film lokal berjudul Mappalisu Sumange, yang ditayangkan di bioskop.